Jumat, 06 Oktober 2017

Yanto sang Kolektor


Hobi adalah sebuah kebutuhan untuk memuaskan hasrat duniawi. Entah hobi itu berupa benda ataupun  sebuah kegiatan, yang jelas hobi kadang menjadi pelengkap untuk mendampingi kehidupan. Salahsatunya adalah hobi mengoleksi Action Figure Anime

Namanya adalah Yanto, Mahasiswa asal Depok ini gemar mengoleksi Action Figure karena senang  melihat patung-patung berbentuk animasi terpajang di kamarnya. Mulai dari karakter animasi  penyihir, anak sekolahan, sampai hewan buas pun terpajang rapi di kamar Yanto.

Yanto yang bernama lengkap Satriyanto Adhi Wicaksono ini gemar mengoleksi Action Figure dari sejak masuk Sekolah Menengah Atas.”Saya awal mula ngoleksi Action Figure itu pas masuk SMA, itu juga dengan ngumpulin uang jajan mingguan. Kadang sampe puasa senin kamis.” Ujar Yanto.

Setiap ada orang datang ke kamarnya dan ingin memainkan Action Figure miliknya, Yanto selalu tidak mengizinkannya. Dikarenkan dulu mainannya pernah sampai jatuh dan patah dibagian tangannya.”Ini kan bukan masalh pelit atau sombong, tapi ini kan namanya jga benda kesayangan, dan hobi saya pula. Makanya daripada terulang lagi, lebih baik tidak ada yg mainin.” Papar Yanto.

Koleksi Action Figure Yanto sangat banyak dan tak terhitung dalam jari-jari normal manusia. Akan tetapi separuhnya sudah ia jual dan lelang, yang pasti uang itu bukan untuk menabung haji ataupun sedekah, melainkan membeli Action Figure yang baru lagi. Action Figure pertama milik Yanto adalah karakter penyihir dari seri animasi Madoka Magic Girl.

Yanto membeli Action Figure itu sudah sangat lama, saat masi duduk di bangku SMA. Action Figure Madoka Magic Girl milik yanto jika dijual harganya bisa sampai jutaan Rupiah, “Kemaren-kemaren Figure Madoka saya pernah ada yang nawar sampe 1,5 tapi saya gak mau lepas kalo yang ini, soalnya kan ini Action Figure pertama saya. Banyak kenangan di dalam mainan ini.” Ujar satrio sembari memegang Action Figure-nya.

Yanto lebih tertarik mengoleksi Action Figure gadis-gadis animasi dibanding karakter lainnya. Terbukti saat ia menunjukan semua koleksi Action Figure-nya, dari keseluruhan koleksi, setengahnya adalah tokoh gadis-gadis dari serial animasi. Seperti Maki nishikino dari Love Live School Idol Project, Airi dari Oni Chi Chi, Yatsuba dari Yatsuba dan masih banyak lagi.

Koleksi Action Figure Yanto sekarang sangat banyak dan tersusun rapi di etalase kamarnya, tetapi ini masi belum seberapa bila dibandingkan kolektor Action Figure lainnya. “Waduh mas, segini mah saya belum seberapa, masih banyak maniak yang lain, sampe sampe beli Hatsune miku yang harganya 50 juta mas.”

Kendala
Terkendala dana, adalah hal yang biasa untuk kolektor dan penikmat hobi Action Figure. Yanto memiliki uang yang pas-pasan untuk kehidupannya menjadi mahasiswa, tetapi ia masih bisa menyempatkan diri untuk menabung demi menambah koleksi Action Figure miliknya.

Terkadang Yanto hanya makan seadanya untuk membeli Action Figure yang ia idam-idamkan. “yaah, namanya jga saya anak kosan ya mas seadanya ajalah paling kalo makan mah. Yang penting kalo makan, kenyang dan murah. masalah rasa mah beakangan” ujarnya Sambil menghela nafas.Walaupun hanya makan-makanan seadanya, Yanto tak pernah mengeluh sakit. Mungkin itu adalah kekuatan dan anugrah dari mengoleksi Action Figure.

Bukan hanya terkendala dana, larangan dari orangtua pun yang melarang Yanto untuk mengoleksi Action Figure membuatnya terbatasi dalam mengoleksi berhala-berhala itu. Bahkan pada suatu ketika, salah satu koleksi Yanto sempat disita oleh orang tuanya.

“Dari dulu orang tua saya tidak tahu kalau saya suka mengoleksi Action Figure, orang tua saya mengira saya hanya membeli satu mainan saja. Nah, pas akhir kelas Liburan Smester 3 saya membeli Action Figure via Online, dan Figure ini kostumnya agak sedikit terbuka. Kebetulan yang menerima paket waktu itu ibu saya, namanya jga seorang ibu, pasti dia penasaran, “barang apa yang anaknya beli?.” Sepulangnya saya dari Warnet,  ibu saya memarahi saya gara-gara membeli Action Figure itu, dan menyitanya.” Papar Yanto

Bahkan setelah kejadin itu, uang bulanan yanto sempat dikurangi oleh ibunya, agar Yanto tidak membeli Action Figure lagi. Tetapi, Yanto tetap bisa membeli Action Figure dengan menyicil ke salah satu toko Action Figure langganannya. Seiring berjalannya waktu, orang tua Yanto pun memaklumi kebiasaan anaknya yang mengoleksi berhala-berhala animasi itu.

Yanto sebagai seorang kolektor dan penikmat hobi Action Figure, ingin sekali membuat toko untuk memenuhi hobi maasyarakat penikmat Action Figure. Yanto berkata” saya sangat ingin membuka toko Action Figure, karena di Indonesia sendiri masih sedikit toko Action Figure. Jika ada, itupun di mall dan harganya sangat mahal sekali. Maka dari itu saya ingin sekali membuka toko  Action Figure”.

8 komentar: