Sabtu, 28 Oktober 2017

Sepak Terjang Reklamasi di Jakarta




Sepak Terjang Reklamasi di Jakarta


Dewasa ini, wacana reklamasi Teluk Jakarta semakin ramai di perbincangkan. Berbagai kebijakan pemerintah bermunculan, ada yang menolak reklamasi, ada pulang yang mendukung reklamasi.

Kegiatan untuk meningkatkan manfaat sumber daya lahan dengan pengurukan dan pengeringan lahan atau drainase ini sangat banyak menimbulkan pro dan kontra.Ternyata reklamasi  sudah lama dilakukan di Jakarta. Sepak terjang reklamasi di mulai dilakukan sejak 1980-an.

Pada tahun 1981 PT Pembangunan Jaya melakukan reklamasi kawasan Ancol sisi utara untuk kawasan industri dan rekreasi.  Sepuluh tahun kemudian, hutan bakau kapuk terkena reklamasi untuk dijadikan permukiman kalangan kelas menengah keatas. Pada tahun 1995 ada Kawasan Berikat Marunda, kawasan industri ini berdiri dari hasil reklamasi pula.

Mesikupun empat tempat hasil reklamasi tersebut telah terbentuk dan digunakan, namun sempat menimbulkan perdebatan. Mulai dari reklamasi Pantai Pluit yang mengganggu sistem PLTU Muara Karang, hingga tenggelamnya sejumlah pulau di perairan Kepulauan Seribu, diduga hal ini  akibat dari pengambilan pasir laut untuk menimbun area reklamasi Ancol.

Proyek reklamasi yang sedang marak diperbincangkan saat ini adalah reklamasi di Jakart Utara bernama tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall/ Outer Sea Wall), atau juga dinamakan sebagai proyek NCICD (National Capital Integrated Coastal Development- Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara). Proyek reklamasi ini sebenarnya sudah lama direncanakan.

Rencana reklamasi seluas 2.700 hektar tersebut pertama kali dipaparkan pada masa kepemimpinan  Presiden Soeharto, 1995. Tujuannya untuk mengatasi kelangkaan lahan di Jakarta, proyek reklamasi ini juga guna mengembangkan wilayah Jakarta Utara yang tertinggal.

Namun banyak yang menolak proyek reklamasi tersebut, lantaran banyak nelayan yang akan kehilangan mata pencaharian mereka. Belum lagi peninggian muka air laut karena area yang sebelumnya berfungsi sebagai kolam telah berubah menjadi daratan. 

Sepak terjang reklamasi di Jakarta memang selalu menimbulkan pro dan kontra, dari awal terbentuknya pulau hasil reklamasi, hingga saat ini pun yang proyeknya sedang berjalan masih terjadi pro dan kontra.  

43 komentar:

  1. waahh saya baru tahu ternyata reklamasi sudah lama dimulai di jakartaa hwhw

    BalasHapus
  2. wah keren sekali yaa informatif

    BalasHapus
  3. Informasi yang sangat bermanfaat, saya suka!

    BalasHapus
  4. saya jadi kepikiran untuk mereklamasi empang dekat rumah :(

    BalasHapus
  5. saya lelah dengan reklamasi tak kunjung selesai

    BalasHapus
  6. Saya (Tetap) berharap reklamasi direalisasikan

    BalasHapus
  7. Bagus. Saya (tetap) berharap reklamasi direalisasikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayaa juga ingin membeli rumah di hasil wilayah reklamasi, bukan di meikarta

      Hapus
  8. Pemerintah aja belum satu suara, gimana rakyat mau percaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa mbaakk, masi banyak tarik ulurnya hehe

      Hapus
  9. Mungkin, untuk menanggulangi kerugian yang akan dirasakan nelayan, pemerintah bisa menyediakan mata pencaharian alternatif selama proyek tersebut berlangsung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benaarrr mbakk, seperti jadi OP warnet atau jaga parkir di ITC jga lumayan uangnya

      Hapus
  10. What a good article! Bagus Mas tulisannya, mudah saya pahami walau saya termasuk orang yang malas membaca bahasan politik^^ Kata-katanya memang baku tapi tetap enjoy dibaca. Saran saya, yang typo nya bisa diperbaiki ke depannya^^ Semangat!

    BalasHapus
  11. Reklamasi menghancurkan lahan pencaharian nelayan dan habitat biota laut;(

    BalasHapus
  12. akhirnya saya mengerti..terima kasih tujuh dosa besar '-')

    BalasHapus
  13. terima kasih kak atas informasinyaa! lanjutkan menulisnya yaaa ditunggu postingan berikutnya :)

    BalasHapus
  14. Lengkap sam, saya jadi tau sejarah reklmasinya

    BalasHapus
  15. Aing kira kritik sosial ttg reklamasi wak., ehtpi ternyata bukan.

    Padahal mantep tuh kalo diliat dri plusminusnya reklamasi yg mempengaruhi lingkungan wak.

    Kurang grrr ahhh ikee laah

    BalasHapus
  16. Informatif banget dan, berkarya terus yaa!

    BalasHapus
  17. Keren kerenn, mampir juga ke blog gw yaaa

    BalasHapus
  18. Reklamasi itu bagus, bagusnya apa? Gatau saya pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus pak, bisa bikin pulau baru kayk tuhan ae

      Hapus
  19. Apa cuma gue yg baru tau reklamasi udh dr lama? :'/

    BalasHapus
  20. Saya kurang ngerti sama bahan masakan yang tertera dalam kompensasi islamiah yang ada di blog ini, walaupun begitu saya sangat antusias dengan komentar para netizen, salut buat pak jokowi

    BalasHapus
  21. Indonesia memiliki kurang lebih 17.000 pulau, dan masih banyak yg belum dimanfaatkan kenapa harus bikin pulau lagi?

    BalasHapus
  22. Indonesia memiliki kurang lebih 17.000 pulau, dan masih banyak yg belum dimanfaatkan kenapa harus bikin pulau lagi?

    BalasHapus
  23. Kenapa harus bikin pulau baru kalo masih banyak pulau di Indonesia yang belum tereksplorasi?

    BalasHapus
  24. Reklamasi jangan dilihat dari sisi negatif saja, ada kok sisi positifnya yang mungkin belum bisa dirasakan sekarang

    BalasHapus